BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang terus menkampanyekan remaja untuk mengkonsulmsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia dan stunting.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Bakhtiar Mabe, menyampaikan keberhasilannya dengan penggunaan konsumsi TTD telah mencapai 8.033 anak atau 67% dari keseluruhan remaja putri sebanyak 11.970 orang.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Aksi Bergizi Remaja Bontang Berjaya yang dilaksanakan bersama PT Kaltim Parna Industri (KPI) di GOR KPI, Selasa, 25 November 2025.

Bakhtiar Mabe menyampaikan terkait angka tersebut masih jauh dari harapan yang ditargetkan Dinkes Bontang.
Dia menjelaskan konsumsi TTD diwajibkan agar memastikan kesehatan remaja Bontang, terutama calon ibu di masa depan.
“angkai itu belum cukup. Kita ingin semua remaja putri rutin mengonsumsinya agar terhindar dari anemia dan risiko stunting ketika dewasa nanti,” jelasnya.
Bahtiar Mabe juga menekankan gaya hidup generasi sekarang diperhadapkan dengan tantangan kesehatan yanh lebih besar.
Ia menyebut misalnya kebiasaan Malas Gerak (Mager) Imbas penggunaan gawai yang terkendalikan.
Ia menerangkan penggunaan barang elektronik itu sering kali membuat para remaja menjadi larut dalam dunia maya sehingga membuat berlebihan.
Menurutnya, Penggunaan yang berlebihan dinilai mampu memengaruhi kesehatan fisik maupun mental remaja.
“Diharapkan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran literasi remaja mengenai perilaku hidup sehat,” ucapnya.
Selain itu, Bahtiar Mabe mengingatkan peran orang tua untuk memastikan peserta didik lebih dulu sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Selanjutnya kata dia, kondisi lapar peserta didik lebih mudah terdistraksi dan rentan terhadap perilaku negatif
Selanjutnya, Bahtiar Mabe menyampaikan apresiasi untuk PT KPI yang telah mengambil andil dalam keberhasilan program kesehatan remaja melalui penyediaan fasilitas dan sarana Aksi Bergizi.
Kepala Dinkes Bontang itu menilai kegiatan Aksi Bergizi mampus memberikan pengaruh positif dalam membentuk kesadaran dan pola hidup remaja yang lebih sehat dan bergizi seimbang.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mempercepat perbaikan status gizi remaja Bontang,” imbuhnya. (ADV)

















