SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyoroti persoalan banjir yang terus melanda wilayah Samarinda dan sekitarnya.
Dia mengaku frustrasi karena banjir kini makin sering terjadi dan mengganggu aktivitas warga.
Saat kunjungan kerja ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jakarta, Rudy secara terbuka meminta dukungan pemerintah pusat untuk mencari solusi permanen atas persoalan klasik tersebut.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @h.rudymasud, ia menegaskan bahwa banjir di Kaltim bukan lagi masalah musiman, melainkan persoalan struktural yang kompleks.
“Kalau banjir, aduh repot saya. Kami yang jadi tempat sambal,” ujar Rudy saat bertemu Dirjen Kemenhub, belum lama ini.
Gubernur yang akrab disapa Harum itu juga menyinggung pengalamannya di sektor kelautan. Ia mengaku memahami pentingnya pengendalian air dan tata kelola sungai.
“Makanya Pak Dirjen, saya ini dulu kerjanya di laut. Jadi saya tahu pentingnya pengaturan air,” katanya dikutip dari katakaltim.
Rudy menjelaskan, banjir tak hanya terjadi karena hujan deras, tetapi juga akibat air pasang tinggi.
“Tidak hujan pun bisa banjir. Kalau air pasang tinggi, apalagi ditambah hujan, habislah kami,” keluhnya.
Dalam pertemuan itu, Rudy meminta pemerintah pusat memberi dukungan teknis dan arahan untuk mempercepat penanganan banjir di Kaltim.
Dia menilai langkah paling efektif adalah normalisasi dan pengerukan Sungai Mahakam.
Kepada media pada Senin (27/10/2025), Rudy menegaskan bahwa Sungai Mahakam sepanjang 980 kilometer sudah hampir dua dekade tidak pernah dikeruk, sehingga aliran air tersumbat dan tidak mampu menampung debit besar saat hujan atau pasang tinggi.
“Saya sampaikan ke Kemenhub, salah satu solusi agar Kaltim bebas banjir adalah mengeruk Sungai Mahakam,” jelasnya.
Menurutnya, normalisasi sungai akan membantu memperlancar aliran air dari Mahakam Hulu hingga Samarinda.
“Supaya begitu hujan deras, banjir bisa cepat surut. Masalahnya bukan tidak ada saluran, tapi sungainya perlu dinormalisasi,” pungkasnya. (*/Red)

















