BONTANG – Ketua Komite I DPD RI Dapil Kaltim, Andi Sofyan Hasdam, kembali menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, di Auditorium 3 Dimensi, Rabu (4/2/2026).
Kali ini, pesertanya para pelajar dari berbagai sekolah. Di hadapan siswa, Andi Sofyan menyoroti tantangan kebangsaan yang makin kompleks.
Mulai dari intoleransi, fanatisme sempit, hingga dampak globalisasi.
Menurutnya, radikalisme dan terorisme lahir dari sikap merasa paling benar sendiri.
“Kalau merasa agama sendiri paling benar dan yang lain salah, di situlah bibit konflik muncul,” katanya.
Dia juga menyinggung fenomena Islamofobia di negara Barat. Menurutnya, itu muncul akibat ulah kelompok garis keras yang menampilkan wajah agama secara keliru.
“Padahal semua agama mengajarkan kasih sayang. Karena ulah segelintir orang, citra agama jadi rusak,” ucapnya.
Suami dari Wali Kota Bontang itu, mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan di Kota Bontang.
Dia menyebut Bontang sebagai miniatur Indonesia karena dihuni banyak suku.
“Kalau kerukunan rusak, kota ini bisa tidak aman. Semua suku ada di sini, jadi toleransi itu wajib,” tegasnya.
Singgung Ancaman Global dan SDA Indonesia
Dalam materinya itu, turut membahas tekanan global terhadap negara kaya sumber daya alam, termasuk Indonesia.
“Negara kaya pasti jadi incaran. Sejarah membuktikan kita dijajah ratusan tahun karena SDA,” ujarnya.
Saat sesi tanya jawab, para pelajar menyampaikan pertanyaan tajam.
Seorang siswa menanyakan akar masalah korupsi dan bagaimana generasi muda bisa menghindarinya.
Andi Sofyan menjawab, korupsi terjadi karena lemahnya integritas sejak dini.
“Banyak orang waktu muda idealis. Begitu punya jabatan, ikut korupsi. Jadi kuncinya pendidikan moral dan agama dari kecil,” terangnya.
Dirinya menyebut wacana pemiskinan koruptor sebagai efek jera.
“Bila perlu pejabat yang korupsi harus disita semua asetnya,” tegasnya.
Pelajar lain menyinggung pembukaan lahan sawit yang dianggap memicu banjir dan kerusakan lingkungan, termasuk rencana ekspansi di Papua.
Andi Sofyan mengakui sawit berbeda dengan hutan alami.
“Hutan itu banyak jenis pohon dan jadi habitat satwa. Sawit itu monokultur. Dampaknya ke lingkungan jelas beda,” jelasnya.
Kegiatan ditutup dengan pesan agar generasi muda menjaga persatuan dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalian ini masa depan Indonesia. Jangan sampai bangsa ini rusak karena kita gagal menjaga persatuan,” pungkasnya. (*/Niwil)

















