BONTANG – Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Muhklis, mengungkap kronologi dua santrinya yang terseret arus banjir hingga meninggal dunia, Sabtu (13/2/2026) pagi.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WITA. Saat itu, kedua santri yang masih duduk di kelas I SMA tersebut diketahui sedang berenang di area empang yang berada di atas lingkungan pesantren.

Aktivitas bermain air saat debit meningkat disebut sudah sering dilakukan para santri.
“Di atas pesantren ada empang. Biasanya santri bermain kalau air naik. Mungkin sudah takdir, kejadian hari ini jadi seperti ini,” ujar Muhklis.
Menurutnya, satu korban merupakan warga Bontang, sementara satu lainnya berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur.
Jenazah korban asal Flores telah diberangkatkan ke keluarga di Samarinda.
Berdasarkan informasi di lokasi, insiden bermula ketika salah satu santri diduga kehilangan kendali saat berenang di arus yang cukup deras.
Korban sempat terlihat berpegangan pada batang kayu yang hanyut. Melihat rekannya kesulitan, santri lainnya berinisiatif menolong.
Namun nahas, arus justru menyeret keduanya hingga tenggelam.
“Yang pertama ditemukan lebih dulu. Saya dapat kabar hidung dan telinganya sudah mengeluarkan darah,” katanya.
Kedua santri tersebut diketahui aktif dalam kegiatan pesantren, termasuk menghafal Alquran.
“Kedua santri ini aktif hafal Alquran,” ungkapnya. (*/Niwil)

















