JAKARTA – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud (Harum), mengungkap kondisi jalan rusak parah di perbatasan Kutai Kartanegara dan Kutai Barat.
Hal ini ia sampaikan saat bertemu pelaku usaha tambang dan migas di Jakarta, Jumaat 27 Juni 2025.
Gubernur Harum bercerita, pekan lalu ia mengemudikan sendiri kendaraan dinasnya dari Samarinda ke Kutai Barat. Jarak yang ditempuh sekitar 320 kilometer.
“Saya langsung bawa sendiri kendaraannya agar tahu apa yang dirasakan masyarakat. Jalannya rusak parah Pak,” ujar Gubernur Harum dikutip dari Kaltimprov.go.id
Menurutnya, kerusakan jalan bukan disebabkan aktivitas perusahaan sawit. Ia menegaskan, kerusakan terjadi karena angkutan alat berat tambang yang melalui jalan raya.
Kerusakan ditemukan di jalan nasional, provinsi, dan kabupaten. Lokasi terparah berada di sekitar Perian hingga Barong Tongkok.
Gubernur Harum langsung berkoordinasi dengan Kapolda Kaltim. Ia meminta agar angkutan alat berat tidak lagi lewat jalur darat.
“Tonase angkutan alat berat sangat besar dan akan cepat menyebabkan kerusakan jalan,” jelasnya.
Gubernur merinci, long bed atau trailer dengan berat 20 ton ditambah PC 210 (21 ton) menghasilkan total beban 40 ton.
Jika diangkut PC 330 (33 ton) maka totalnya menjadi 50 ton. Sementara untuk PC 400 (40 ton) total beban mencapai 60 ton.
“Sepanjang alat berat diangkut, maka sepanjang itu pula jalan akan terdampak kerusakan,” katanya.
Gubernur Harum menegaskan, angkutan alat berat sebaiknya melalui jalur sungai atau laut. Ini dilakukan agar jalan nasional dan jalan yang dibiayai APBD tidak cepat rusak.
Ia menekankan, kebijakan ini berlaku di seluruh wilayah Kaltim. Baik wilayah tengah, utara, maupun selatan.
Gubernur Harum memastikan Pemprov Kaltim mendukung investasi pertambangan. Namun ia berharap perusahaan tambang juga berkontribusi menjaga infrastruktur jalan agar tidak cepat rusak. (***)