Bontang – Wakil Ketua I DPRD Kota Bontang, Sitti Yara, menyerukan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga dan melindungi hak-hak anak, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2025.
Menurutnya, HAN bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan momen penting untuk mengevaluasi sejauh mana perhatian dan perlindungan terhadap anak telah dijalankan, khususnya di tingkat daerah.
“Anak-anak adalah masa depan kita. Jangan hanya dibicarakan setiap tahun saat Hari Anak tiba. Ini waktu untuk mengubah perhatian menjadi tindakan konkret,” ucap Sitti Yara saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (23/7/2025).
Sitti menilai, kebutuhan anak akan pendidikan yang layak, kesehatan jiwa dan raga, serta lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya, masih perlu banyak pembenahan.
Ia juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap anak yang masih menjadi tantangan serius di Bontang.
Data yang diterima menunjukkan, selama semester pertama 2025, terdapat 20 kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Rinciannya meliputi 9 kasus persetubuhan, 2 pencabulan, 4 kekerasan fisik, 3 KDRT, serta masing-masing satu kasus perzinahan dan penganiayaan.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi banyak kasus terjadi dalam lingkungan rumah tangga sendiri. Kita perlu mengubah cara pandang soal siapa yang bertanggung jawab atas keamanan anak. bukan hanya pemerintah, tetapi juga orang tua dan komunitas,” jelasnya.
Sebagai satu-satunya perempuan di jajaran legislatif Kota Bontang, Sitti turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kurangnya ruang aman bagi anak-anak, baik secara fisik maupun emosional.
Untuk itu, dia berharap pemangku kepentingan lebih serius dalam menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang menjadi dasar penetapan HAN pada 23 Juli.
“UU itu bukan hanya arsip sejarah. Itu mengandung amanah besar yang harus diwujudkan bersama,” tambahnya.
Lebih lanjut, momen ini juga bertepatan dengan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-27 partai yang mengusungnya ke parlemen.
Di tengah perayaan partai, ia justru menegaskan komitmennya untuk fokus pada isu perlindungan anak dan mengajak masyarakat untuk tidak hanya reaktif terhadap kasus yang muncul.
“Pencegahan adalah kunci. Jangan tunggu sampai anak-anak menjadi korban baru kita bereaksi. Edukasi dan sosialisasi harus diperkuat,” tandas politisi dari Bontang Utara ini.(*/Maldi)