BONTANG, CUITANKALTIM.COM – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan persoalan pernikahan usia anak dan kehamilan remaja tidak bisa hanya dipandang dari besarnya jumlah kasus.
Menurutnya, satu kasus pun tetap menjadi persoalan moral yang harus menjadi perhatian dan diselesaikan secara bersama-sama.
Dia menilai upaya menekan pernikahan usia dini tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Ini merupakan masalah moral dan menjadi tanggung jawab kita semua. Jangan melihat besar atau kecil angkanya, tetapi bagaimana kita bersama-sama mencegah agar kasus seperti ini tidak terjadi,” ujarnya saat di temui pada Sabtu (25/7/2026).
Neni mengatakan pemerintah terus berupaya menjalankan berbagai program pencegahan meski di tengah keterbatasan anggaran.
Program-program yang menyasar ketahanan keluarga hingga perlindungan anak tetap menjadi prioritas sebagai langkah menekan angka pernikahan usia dini dan kehamilan di luar nikah.
Menurutnya, Gerakan Keluarga Sakinah maupun berbagai program yang dijalankan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) terus dilaksanakan untuk memperkuat peran keluarga dalam mendampingi anak.
“Dengan anggaran yang terbatas, seluruh program tetap berjalan. Gerakan Keluarga Sakinah berjalan, program DP3AKB juga berjalan. Semua diarahkan untuk menekan pernikahan usia dini, kehamilan di luar nikah, dan persoalan sosial yang berkaitan dengan anak,” katanya.
Ia menegaskan keberhasilan mencegah pernikahan anak tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Orang tua, sekolah, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab yang sama dalam memberikan perlindungan kepada anak.
“Orang tua harus lebih meningkatkan perhatian terhadap anak-anaknya. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kita semua,” tegasnya.
Neni menambahkan, meski secara persentase angka kasus di Bontang mungkin lebih rendah dibandingkan daerah lain, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menganggap persoalan tersebut sepele.
“Kalau ditarik secara statistik mungkin kecil, tetapi ini bukan soal statistik. Ini masalah moral yang harus kita selesaikan bersama demi masa depan anak-anak Bontang,” pungkasnya. (*/Nwl)

















