BONTANG – Memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, Wakil Ketua DPRD Bontang, Sitti Yara, menyerukan kepada Pemerintah Kota Bontang untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja serta menghapus kesenjangan gender di dunia industri.
Menurut Sitti Yara, buruh merupakan elemen vital dalam pembangunan ekonomi Bontang yang dikenal sebagai kota industri. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak pekerja yang selama ini masih sering diabaikan.
“Masih ada laporan mengenai pelanggaran hak buruh, seperti upah di bawah UMK, pesangon yang tidak dibayarkan, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tidak sesuai prosedur. Ini harus menjadi perhatian serius Pemkot Bontang ,” ujar Sitti Yara, Rabu (01/5/2025) sore.
Selain itu kesenjangan gender di dunia industri menjadi sorotan Sitti Yara di May Day tahun ini.
Dia memaparkan bahwa Indeks Pemberdayaan Manusia (IPM) Bontang di Tahun 2023 mencapai 81,63 meningkat 0,79 berada di urutan ketiga setelah Samarinda dan Balikpapan, namun pada komponen pengeluaran rill per kapita, menunjukkan ketimpangan signifikasi pada 2023, rata-rata nasional pengeluaran laki-laki adalah Rp. 16.736 ribu, sementara perempuan hanya Rp.9.579 ribu. Ini mencerminkan bahwa dimensi standar hidup masih timpang secara gender.
“Revitalisasi Pengarusutamaan gender, dalam hal ini, menjadi sangat penting dan menjadi solusi atas permasalahan problematika ketidakadilan gender yang dialami perempuan dalam dunia kerja,” ungkapnya
Dengan adanya ketimpangan gender di dunia kerja. Ia menilai, sektor industri dinilai masih belum memberikan kesempatan dan perlindungan yang setara bagi pekerja perempuan.
“Sebagai satu-satunya perwakilan perempuan di DPRD, saya mendorong agar Pemkot mengeluarkan kebijakan yang ramah gender. Perempuan juga berhak mendapatkan perlakuan yang adil, akses terhadap pekerjaan yang layak, dan perlindungan kerja yang sama,” sebutnya
Sitti Yara berharap momentum May Day tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjadi refleksi bersama untuk menciptakan lingkungan kerja yang adil, inklusif, dan sejahtera bagi seluruh pekerja di Bontang.
“Dengan meningkatnya kesadaran akan hak-hak buruh dan pentingnya kesetaraan gender, diharapkan Bontang mampu menjadi kota industri yang tidak hanya produktif, tetapi juga lebih berkeadilan bagi semua kalangan,” pungkasnya. (***)