BONTANG – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur, Shemmy Permatasari Sari (SPS), kembali turun menyapa masyarakat.
Kali ini, lewat sosialisasi penyelenggaraan pembangunan ketahanan keluarga di daerah pemilihannya, Bontang, Kutai Timur, dan Berau.
Dalam paparannya, SPS menegaskan keluarga adalah pondasi utama kehidupan. Dari keluargalah seseorang pertama kali belajar nilai, norma, hingga cara bersikap di tengah masyarakat.
“Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, tapi dampaknya paling besar. Kalau keluarga kuat, daerah juga akan kuat,” ujar SPS sapaan akrabnya, Sabtu 7 Februari 2026.
Dalam konteks pembangunan daerah, SPS menyinggung Indeks Pembangunan Keluarga (I-Bangga) sebagai alat ukur kualitas keluarga.
Di Kota Bontang, angka I-Bangga tahun 2024 tercatat 64,62, masuk kategori cukup baik dan berkembang.
“Ini jadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah tidak bisa sendiri. Ketahanan keluarga harus dibangun dari rumah masing-masing,” ujarnya.
Senada dengan itu, Dewi Wahyuni selaku narasumber melanjutkan ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang menghadapi berbagai tekanan kehidupan, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, hingga lingkungan.
Menurutnya, ketahanan keluarga berdiri di atas empat pilar utama, yakni, taqwa, sabar, kasih sayang, dan nafkah yang memadai.
“Tanpa empat hal ini, keluarga mudah goyah. Tapi kalau ini dijaga, keluarga bisa jadi tempat paling aman untuk pulang,” katanya.
Dia juga mengingatkan keluarga memiliki delapan fungsi penting, mulai dari fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, hingga pembinaan lingkungan.
“Keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tapi tempat membentuk karakter, akhlak, dan masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Lanjut dia, implementasi Perda Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pembangunan Ketahanan Keluarga harus benar-benar dipahami masyarakat.
“Perda ini bukan sekadar aturan, tapi panduan agar keluarga kita lebih tangguh, mandiri, dan bahagia. Kalau keluarga sejahtera, generasi yang lahir juga berkualitas,” kata Dewi.
Ia berharap sosialisasi ini mampu membuka kesadaran masyarakat bahwa membangun daerah tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari rumah yang harmonis.
“Kalau keluarga kuat, kita sedang menyiapkan generasi emas untuk masa depan Kalimantan Timur,” tutupnya. (*/Nwl)

















