OPINI – Di sebuah kamar kos kecil dekat kampus, saya duduk santai menikmati seduhan kopi. Tiba-tiba seorang teman datang, khas dengan gaya mahasiswa idealis: kemeja rapi, celana licin, dan laptop di tangan.
Ia mengetuk pintu, dan saya dengan sedikit senyum dan nada bercanda membukanya sambil berkata.
“Selamat datang di kampus kita, tempat ide-ide besar dibungkus dalam map warna-warni dan dilegitimasi dengan stempel cap basah. Di sini, kebebasan akademik berjalan kaki, sementara birokrasi melaju dengan mobil dinas.”
Di kampus hari ini, segalanya bergantung pada formulir. Ingin mengadakan kegiatan? Isi formulir. Mau ikut lomba debat luar kota? Formulir lagi. Cuti kuliah? Sediakan beberapa rangkap, lampirkan KRS, fotokopi KTM, mungkin juga surat keterangan sehat dari puskesmas-meski puskesmas tak pernah benar-benar tahu sakit apa yang sedang kita alami.
Jika Jurgen Habermas hidup di kampus ini, barangkali ia akan berhenti menulis dan mulai mengambil nomor antrean di ruang tata usaha.
Habermas membagi masyarakat ke dalam dua dunia: Lebenswelt (dunia kehidupan) dan sistem. Dunia kehidupan adalah ruang di mana manusia berinteraksi, berdiskusi, dan membentuk pemahaman bersama. Sebaliknya, dunia sistem adalah ruang yang berjalan berdasarkan logika kekuasaan dan uang-termasuk birokrasi.
Idealnya, kampus adalah bagian dari dunia kehidupan: ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pembentukan nalar kritis. Namun kenyataan berbicara lain. Dunia kehidupan ini perlahan dijajah oleh sistem.
Birokrasi kampus kini beroperasi seperti mesin yang melupakan tujuan. Diskusi digantikan presensi. Aspirasi mahasiswa disubstitusi oleh survei daring yang tak dibaca hasilnya. Banyak kebijakan kampus lahir bukan dari dialog terbuka, tapi dari template kebijakan tahun lalu.
Habermas menyebut proses ini sebagai “kolonisasi dunia kehidupan oleh sistem” -yakni ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh prosedur dan standar operasional (SOP) yang kaku.
Lebih dalam, Habermas membedakan dua bentuk rasionalitas: rasionalitas komunikatif dan rasionalitas instrumental.
Rasionalitas komunikatif berlandaskan dialog, keterbukaan, dan pencarian makna bersama.
Sementara rasionalitas instrumental hanya peduli pada efisiensi: apakah sistem berjalan lancar, dokumen rapi, laporan selesai, grafik tercetak.
Sayangnya, birokrasi kampus hari ini lebih mengedepankan rasionalitas instrumental. Yang penting target terpenuhi, sistem terdokumentasi, dan laporan bisa dipresentasikan ke kementerian. Tapi apakah semua itu benar-benar berdampak bagi kehidupan mahasiswa?
Saat rapat senat menentukan kurikulum, adakah mahasiswa diajak bicara? Ketika dosen dinilai dari jurnal bereputasi, adakah mahasiswa dilibatkan untuk menilai kualitas pengajarannya? Rasanya tidak. Sekalipun ada formulir evaluasi, isinya seringkali jawaban kaku dari mahasiswa yang telah terbiasa hidup dalam sistem yang kaku.
Cara berpikir pun jadi kaku. Hidup terasa kaku. Tapi tak mengapa – yang penting sistem tetap berjalan, meskipun kadang menggilas manusia di dalamnya.
Habermas juga memperkenalkan konsep ruang publik (public sphere) – yakni ruang di mana warga berdiskusi secara rasional dan setara tentang isu-isu bersama.
Secara ideal, kampus seharusnya menjadi salah satu bentuk ruang publik paling murni. Namun kini, kampus lebih mirip ruang tunggu: tempat mahasiswa menanti keputusan yang telah dirumuskan orang lain.
Forum diskusi? Ada, tapi topiknya disaring. Organisasi mahasiswa? Tersedia, tapi jangan terlalu vokal. Aspirasi? Terserah, tapi tolong isi Google Form di bawah ini. Tidak puas? Silakan datang ke forum terbuka yang dijadwalkan pukul 08.00 – 10.00 pagi di hari kerja, saat semua mahasiswa sedang kuliah. Hehe.
Akhirnya, ruang publik tinggal slogan. Dicat di dinding fakultas, tapi tak hidup di ruang kelas, apalagi di ruang rektorat.
Habermas tidak menolak sistem, tapi ia mengingatkan bahwa sistem hanyalah alat, bukan tujuan. Ketika sistem kampus menghapus ruang komunikasi dan aspirasi, maka pendidikan telah direduksi menjadi sekadar pengelolaan administrasi demi kepentingan birokrasi.
Jika Habermas menyaksikan kampus hari ini, mungkin ia akan menggeleng pelan dan berkata, “Mereka lebih percaya sistem daripada dialog.”
Namun saya masih optimis. Meski kampus sibuk dengan akreditasi dan pelaporan, saya percaya masih ada dosen dan mahasiswa yang mau duduk bersama, berbicara, dan bertanya:
“Mengapa kita melakukan semua ini?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi fundamental. Mungkin dari pertanyaan itulah kita bisa mulai merebut kembali kampus. Bukan dari tangan musuh, tapi dari cengkeraman sistem yang tak pernah diajak bicara. (***)
Penulis: Beno Gutenberg, Ketua Pemilar Kecamatan Tanalili