BONTANG – Calon Wakil Wali Kota Bontang Chusnul Dihin merespon pertanyaan yang disampaikan oleh panelis dalam durasi waktu 1 menit.
Di mana pertayaan panelis yakni hasil survei kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa prevelensi anak balita stunting di Bontang 27,4 persen.
Angka ini lebih tinggi dari rata-rata prevalensi nasional 21,5 persen dan Kalimantan Timur 22,9 persen. Pertanyaannya jika terpilih kebijakan apa yang ditawarkan untuk mengeliminasi stunting di Bontang.
Merespon pertanyaan tersebut, Chusnul Dihin mengatakan isu stunting ini adalah isu nasional, olehnya itu kata dia, punya komitmen untuk mengatasinya.
“Kita punya program, membuat aplikasi terintegrasi dapat memudahkan pemerintah dalam memantau dan mengontrol data stunting secara real-time,” katanya.
Dalam aplikasi ini lanjut dia, bisa ditangani secara terpadu. Aplikasinya bisa lebih akurat dan intervensi data yang tepat sasaran dalam mengatasi stunting.
“Aplikasi ini sangat terpantau, sehingga kami tahu datanya dan cepat diatasi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa aplikasi tersebut akan terhubung langsung dengan Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya, memungkinkan pemerintah untuk segera melakukan intervensi saat ada kasus baru yang terdeteksi.
“Kader posyandu di lapangan dapat dengan mudah “jemput bola” untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih cepat dan efektif,” tegas Chusnul
Selain itu, Chusnul juga mengapresiasi peran besar para kader posyandu di masyarakat. Menurutnya, kader posyandu adalah garda terdepan dalam penanganan berbagai isu kesehatan di masyarakat, termasuk stunting.
“Peran mereka sangat vital, dan pemerintah harus mendukung mereka dengan teknologi serta insentif yang layak,” pungkasnya. (***)