JAKARTA – Dalam dunia diplomasi, wibawa dan kepercayaan jauh lebih berarti daripada kata-kata yang lantang. Prabowo Subianto bukan sosok yang banyak berbicara, namun cukup untuk mengubah arah dan membuat dunia memberi perhatian.
Di tengah menguatnya arus proteksionisme global, terutama pasca rencana Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap sejumlah negara, banyak mitra dagang utama Amerika mulai kehilangan pijakan. Negara-negara eksportir besar di kawasan Asia dan Eropa kini menghadapi lonjakan tarif impor yang berpotensi mengguncang stabilitas sektor industri mereka.
Saat banyak pemimpin dunia merespons langkah Trump dengan kegelisahan dan retorika keras, Indonesia mengambil langkah tenang namun pasti. Tanpa drama dan tanpa keluhan lantang, Presiden Prabowo bertindak cepat. Ia merancang strategi diplomatik yang kokoh, menempatkan kepentingan nasional sebagai kompas utama di tengah riuh geopolitik.
Meski baru pulang dari lawatan maraton ke Arab Saudi, Brasil, hingga Eropa, Presiden Prabowo masih menyempatkan menelepon Presiden AS Donald Trump. Dalam percakapan strategis itu, ia membahas penurunan tarif ekspor untuk Indonesia. Diplomasi berjalan bahkan di tengah kelelahan.
Percakapan dua pemimpin baru itu berlangsung sengit. Dalam 17 menit, negosiasi kepentingan nasional berlangsung ketat hingga akhirnya Trump setuju menurunkan tarif resiprokal Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Hasilnya bukan sekadar omongan. Presiden Prabowo mendapat pengakuan langsung dari Presiden Donald Trump—bukan lewat staf, bukan lewat laporan media, tapi langsung dari lidah sang pemimpin dunia.
Di kutip dari Detik.news (18/7) “Kesepakatan besar baru saja dibuat dengan Indonesia. Saya berurusan langsung dengan presiden mereka yang sangat dihormati,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan resmi lewat akun Instagram pribadinya. Ia membenarkan pernyataan Trump dan menegaskan bahwa kesepakatan antara Indonesia dan Amerika bersifat timbal balik dan menguntungkan kedua pihak.
Baru kembali dari lawatan luar negeri, Presiden Prabowo menjelaskan poin kesepakatan tarif dengan Trump, termasuk komitmen Indonesia membeli 50 pesawat Boeing untuk Garuda Indonesia.
Menurut Laporan CNN Indonesia (18/7) “Saya bertekad untuk membesarkan Garuda dan untuk itu ya kita butuh pesawat-pesawat baru. Saya kira enggak ada masalah (pembelian 50 pesawat Boeing) karena kita butuh. Mereka (AS) ingin jual, pesawat Boeing juga cukup bagus,” jelasnya di Bandara Halim Perdanakusuma.
Meskipun bagi sebagian pihak hal ini sekilas nampak pernyataan Trump soal akses penuh bagi AS dan tarif 19 persen untuk Indonesia tampak timpang. Namun sebenarnya, ini bukan tanda menyerah, melainkan langkah kompromi strategis untuk negosiasi lanjutan dan perlindungan kepentingan nasional.
Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, hanya negara dengan visi jelas yang bisa menjaga kepentingan tanpa kehilangan sekutu. Indonesia kini berada di jalur itu dipandu secara tegas oleh presiden RI Prabowo Subianto.(*/T)