BALIKPAPAN, CUITANKALTIM.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan menyoroti pentingnya peran keluarga dan pendidikan agama dalam mencegah perilaku berisiko yang dapat meningkatkan penularan HIV di masyarakat.
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, mengatakan upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan keluarga.
“Semua dimulai dari keluarga agar anak-anak tidak terjerumus,” katanya, dikutip katakaltim.com, Senin (6/7/2026).
Menurut Alwiati, Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki mobilitas penduduk yang terus meningkat.
Kondisi itu dinilai menjadi tantangan dalam pengendalian penyakit menular, termasuk HIV.
Ia mengungkapkan, kasus HIV baru di Balikpapan masih menunjukkan tren peningkatan.
Salah satu kelompok yang tercatat dalam pemantauan Dinkes adalah laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).
“Memang terjadi peningkatan, terutama kasus baru. Salah satunya kategori LSL,” ujarnya.
Alwiati menjelaskan, istilah LSL digunakan dalam epidemiologi untuk memetakan kelompok dengan risiko penularan HIV sehingga program pencegahan dapat disusun lebih tepat sasaran.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa perilaku berisiko tidak selalu mudah dikenali karena pelakunya dapat beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya.
“Peran masyarakat dan keluarga sangat penting untuk saling menjaga,” ucapnya.
Alwiati juga menilai pendidikan agama perlu ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter anak serta penguatan ketahanan keluarga.
Menurutnya, keterlibatan kedua orang tua, terutama figur ayah, juga berperan penting dalam mendampingi anak agar terhindar dari berbagai perilaku berisiko.
“Figur ayah sangat penting,” pungkasnya. (*/Put)














