BONTANG, CUITANKALTIM.COM – Lonjakan kasus kehamilan remaja di Kota Bontang menuai sorotan tajam dari Anggota DPRD Bontang, Muhammad Sahib.
Berdasarkan data yang dihimpun dari praktik dokter spesialis kandungan dr. Pakhruzzabadi, Sp.OG, tercatat 59 remaja hamil sepanjang Januari hingga Mei 2026, termasuk korban termuda berusia 12 tahun.
Bagi Sahib, angka tersebut merupakan alarm keras yang tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan biasa. Ia menilai kondisi itu bertolak belakang dengan predikat Bontang sebagai Kota Layak Anak.
“Ini sudah darurat. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik predikat Kota Layak Anak kalau kenyataannya puluhan anak justru hamil di usia remaja. Pemerintah harus mengakui kondisi ini dan segera bertindak,” tegasnya, Rabu (8/7/2026).
Data yang dipublikasikan juga menunjukkan dampak serius dari kehamilan usia anak. Dalam satu bulan terakhir, tercatat enam ibu berusia anak melahirkan.
Dua bayi lahir selamat, sedangkan dua lainnya meninggal dunia akibat berat badan lahir sangat rendah. Selain itu, empat kasus kehamilan diketahui setelah korban masuk IGD dengan keluhan nyeri hebat dan perdarahan.
Kasus yang pernah ditangani juga mencatat korban termuda berusia 12 tahun akibat persetubuhan, bahkan terdapat dugaan pencabulan terhadap anak usia 4 hingga 5 tahun yang diduga dilakukan ayah kandung.
Menurut Sahib, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan kepada satu instansi. Pemerintah daerah, sekolah, orang tua, tokoh agama, dan masyarakat harus bergerak bersama agar angka kehamilan anak tidak terus meningkat.
“Jangan saling menyalahkan. Yang harus dilakukan sekarang adalah memperkuat pencegahan. Orang tua harus lebih mengawasi anaknya, sementara pemerintah wajib hadir melalui edukasi yang masif,” ujarnya.
Dia mendesak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama dinas terkait rutin memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada pelajar SMP dan SMA. Bahkan, ia mengusulkan materi pendidikan seksual diberikan secara terstruktur di lingkungan sekolah.
“Minimal sebulan sekali harus ada sosialisasi di sekolah. Kalau memang diperlukan, pendidikan seksual harus mulai diberikan sesuai usia agar anak-anak memahami risiko dan konsekuensinya,” katanya.
Selain itu, Sahib meminta Pemkot Bontang tidak hanya mengandalkan data dari satu fasilitas kesehatan. Menurutnya, pemerintah harus menghimpun data dari seluruh rumah sakit, puskesmas, dan klinik untuk mengetahui pola penyebab kehamilan remaja.
“Kalau pemerintah punya data yang lengkap, kita bisa petakan wilayah mana yang paling tinggi, kelompok usia yang paling rentan, hingga faktor penyebabnya. Dari situ baru dibuat kebijakan yang tepat. Jangan sampai penanganannya salah sasaran karena tidak memiliki basis data,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kehamilan usia anak bukan hanya berdampak pada putus sekolah, tetapi juga meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi, persalinan prematur, anemia, hingga stunting akibat berat badan lahir rendah.
“Ini menyangkut masa depan generasi Bontang. Kalau tidak ditangani secara serius mulai sekarang, dampaknya akan jauh lebih besar di kemudian hari,” pungkasnya. (*/Niwil)

















