BONTANG, CUITANKALTIM.COM – Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Bestari, Kelurahan Belimbing, mewakili Kota Bontang dalam Wawancara Pemutakhiran Kampung KB Tingkat Nasional 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (11/6/2026).
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memaparkan berbagai program unggulan yang dijalankan pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menurunkan angka stunting.
Kegiatan tersebut diikuti secara daring dari Aula Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispopar) Bontang.
Hadir pula sejumlah OPD dan mitra Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini mendukung program Kampung KB Bestari.
Di hadapan tim penilai nasional, Neni menegaskan pembangunan keluarga menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah.
“Pembangunan keluarga adalah fondasi pembangunan daerah,” ujar Neni.
Menurutnya, berbagai program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada penurunan stunting, tetapi juga peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
“Kami mengedepankan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” katanya.
Dalam pemaparannya, Neni menjelaskan sejumlah program unggulan yang telah berjalan. Di antaranya SIDAYA (Sekolah Lansia Berdaya), GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), hingga peningkatan insentif bagi 514 kader Bangga Kencana.
Insentif kader yang sebelumnya Rp250 ribu per bulan kini naik menjadi Rp1 juta per bulan.
“Kader adalah ujung tombak pelayanan di masyarakat,” urainya.
Kampung KB Bestari yang dibentuk pada 2022 kini menjadi salah satu percontohan pembangunan keluarga di Kota Bontang.
Selain menjalankan program pemberdayaan masyarakat, kawasan tersebut juga berhasil mengembangkan produk UMKM yang telah menembus pasar internasional hingga Kamboja.
Tak hanya itu, sejumlah indikator pembangunan keluarga menunjukkan peningkatan signifikan.
Kesertaan keluarga berencana (KB) modern meningkat dari 51,6 persen menjadi 63,3 persen. Sementara Indeks Pembangunan Keluarga naik dari 56,7 persen menjadi 73,6 persen.
Pada sektor kesehatan, penanganan stunting dilakukan secara terintegrasi melalui pendampingan keluarga dan layanan homecare.
Program berbasis gotong royong itu mendapat apresiasi dari dewan juri karena dinilai mampu melibatkan banyak pihak dalam upaya pencegahan stunting.
Hasilnya, jumlah anak stunting di wilayah Kampung KB Bestari berhasil ditekan dari 101 anak menjadi 95 anak.
Capaian tersebut sejalan dengan target Pemerintah Kota Bontang untuk menurunkan prevalensi stunting hingga di bawah 10 persen.
“Penanganan stunting harus dilakukan bersama-sama,” seruanya.
Ia menegaskan keberhasilan Kampung KB Bestari merupakan hasil sinergi antara pemerintah, masyarakat, kader, dan dunia usaha yang terus berjalan hingga saat ini.
“Ini bukti kolaborasi mampu menghasilkan perubahan nyata,” tutupnya. (*/Niwil)

















