MAHULU – Informasi kecelakaan yang disebut menimpa rombongan Gubernur Kalimantan Timur saat kunjungan kerja ke wilayah barat dan utara Kaltim dipastikan tidak menimbulkan korban.
Insiden terjadi pada Selasa, 6 Januari 2026. Rombongan melintas jalur darat menuju Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
Lokasi kejadian berada di kawasan hutan tanaman industri milik PT Acacia Andalan Utama.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan, kendaraan tidak masuk ke sungai seperti yang beredar di media sosial.
Kendaraan hanya terperosok ke parit di jalan logging.
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Kaltim, Irhamsyah, berada di dalam kendaraan saat kejadian.
Dia menjelaskan kondisi jalan saat itu dipenuhi debu tebal.
Menurut Irhamsyah, karakter jalan berupa tanah berpasir membuat jarak pandang sangat terbatas.
Kecepatan kendaraan tidak lebih dari 40 kilometer per jam. Rombongan juga dikawal di bagian depan.
“Debu sangat pekat. Pandangan pengemudi terganggu,” kata Irhamsyah, Rabu, 7 Januari 2026.
Dia menyebut jalan menyempit di sekitar jembatan kayu logging. Akibatnya, kendaraan keluar jalur dan masuk ke parit.
Tidak ada benturan keras. Seluruh penumpang selamat.
“Kondisi kami baik. Tidak ada yang mengalami cedera,” ujarnya.
Kendaraan kemudian dievakuasi. Mesin masih berfungsi. Namun rombongan memilih berganti kendaraan demi keamanan.
Di mana agenda kunjungan tetap berjalan.
Irhamsyah masih menghadiri peresmian ruas jalan Tering – Ujoh Bilang dan bertemu langsung dengan Gubernur Kaltim.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Muhammad Faisal, menanggapi beredarnya video di media sosial.
Dirinya menilai informasi yang beredar tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Ini murni karena medan dan faktor alam,” ujar Faisal.
Ia menegaskan tidak ada unsur kelalaian atau aksi berbahaya.
Faisal menjelaskan rute menuju Mahakam Ulu melewati Muara Jawaq di Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kutai Barat.
Jalur tersebut merupakan jalan logging yang sempit dan berdebu. Dia menegaskan kendaraan masuk ke parit, bukan ke sungai.
Penyempitan jembatan kayu menjadi penyebab utama. Faisal mengingatkan pentingnya akurasi dalam pemberitaan.
Ia meminta media dan warganet tidak membesar-besarkan informasi.
“Klarifikasi penting agar publik mendapat gambaran utuh,” katanya.
Kunjungan kerja awal 2026 ini bertujuan meninjau hasil pembangunan tahun anggaran 2025.
Fokusnya pada infrastruktur dan konektivitas wilayah pedalaman.
Salah satu jalur yang ditinjau adalah Bongan-Sotek.
Jalur ini dinilai strategis. Waktu tempuh masyarakat dapat dipangkas hingga sekitar 1,5 jam.
Menurut Pemprov Kaltim, insiden di jalan logging menunjukkan tantangan nyata di lapangan.
Kondisi tersebut menjadi alasan percepatan pembangunan terus dilakukan.
“Ini realitas yang dihadapi warga setiap hari,” pungkasnya. (*/Red)

















