OPINI – Satu tahun kepemimpinan adalah momentum penting untuk melakukan evaluasi yang jernih dan objektif.
Waktu yang cukup untuk membaca arah, mengukur kinerja, dan menilai keberpihakan. Namun hari ini, yang tumbuh di tengah masyarakat justru satu kata: bingung.
Bukan untuk mencari kesalahan personal, tetapi untuk memastikan bahwa arah kebijakan dan pembangunan benar-benar berpihak kepada masyarakat dan untuk masyarakat.
Dalam perjalanannya masih banyak persoalan yang menjadi perhatian dan kebingungan publik.
Bingung ketika BPJS banyak yang tidak aktif tanpa penjelasan yang transparan. Bingung ketika ikan-ikan mati mendadak di sungai, hutan dan gunung mulai gundul, namun langkah mitigasi tak terdengar jelas.
Bingung ketika UMKM yang awalnya dijanjikan dukungan justru diminta berpindah tanpa solusi yang matang.
Bingung yang katanya LPG subsidi namun harga dan keberadaannya melebihi barang ilegal yang susah di akses.
Air tak selalu lancar, tetapi tagihan naik lancar. Tenaga kebersihan memprotes gaji yang tak dibayar, PPPK belum menerima haknya.
Apresiasi bagi wajib pajak justru terkesan seremoni, bukan solusi substansial bagi ekonomi rakyat.
Persoalan agraria tak kunjung selesai, penegakan hukum terkesan lamban, capaian OPD sulit diakses publik.
Harga kebutuhan pokok naik, infrastruktur jalan penghubung memprihatinkan, dan lapangan kerja masih menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat Mamuju Tengah.
Yang lebih mengkhawatirkan, kritik publik kerap disikapi dengan alergi, bukan dengan kedewasaan demokrasi.
Padahal kepemimpinan bukan soal anti kritik, tetapi soal kemampuan mendengar dan memperbaiki.
Satu tahun seharusnya menjadi fondasi kuat untuk perubahan. Namun jika kebingungan lebih dominan daripada kejelasan arah, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya program, tetapi juga komitmen dan keberpihakan.
Refleksi satu tahun ini hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama, bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari seremonial dan laporan administratif, tetapi dari sejauh mana dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Refleksi ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan: jabatan adalah amanah, dan amanah menuntut tanggung jawab nyata, bukan sekadar narasi. (***)
Penulis: Sri Rahma Yuni (Sekretaris Kohati Cabang Mamuju Tengah)

















