BONTANG, CUITANKALTIM.COM – Anggota DPRD Bontang, Muhammad Sahib, mengingatkan agar klaim kualitas udara Kota Bontang yang masuk kategori baik berdasarkan data IQAir tidak dimaknai secara berlebihan.
Menurutnya, hasil pemantauan tetap perlu dikaji secara menyeluruh agar benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan.
Berdasarkan data IQAir per Minggu (28/6/2026), Air Quality Index (AQI) Bontang berada di angka 50 poin US, sehingga menempatkan Kota Taman sebagai salah satu daerah dengan kualitas udara terbaik.
Meski demikian, Sahib mengaku tidak meragukan hasil pemantauan yang menunjukkan kualitas udara Bontang masih berada di bawah ambang batas.
Hanya saja, ia menilai kondisi tersebut perlu disandingkan dengan fakta bahwa Bontang merupakan kota industri dengan aktivitas kendaraan bermotor yang terus meningkat.
“Masih di bawah ambang batas saya setuju, tapi jangan langsung dianggap udaranya steril. Kondisi di lapangan juga harus jadi pertimbangan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.
Karena itu, penilaian kualitas udara sebaiknya tidak hanya mengacu pada satu indikator, tetapi juga mempertimbangkan aktivitas industri, kepadatan lalu lintas, hingga lokasi pengambilan sampel udara.
“Semua faktor itu harus dihitung agar hasilnya benar-benar menggambarkan kondisi Bontang,” tegasnya.
Sahib juga meminta pemerintah mengevaluasi metode pemantauan kualitas udara agar titik pengukuran benar-benar mewakili kondisi Kota Bontang, termasuk di kawasan industri dan ruas jalan dengan volume kendaraan yang tinggi.
“Kalau titik pengukurannya tepat, masyarakat juga akan lebih yakin dengan hasil yang disampaikan,” katanya.
Ia berharap data kualitas udara tidak hanya menjadi informasi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun kebijakan pengendalian pencemaran.
Menurutnya, transparansi data dan pemantauan secara berkala penting dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi lingkungan di Kota Bontang.
“Harapannya, data ini menjadi dasar untuk memperbaiki kualitas lingkungan ke depan,” tutupnya. (*/Niwl)

















