SAMARINDA — Puteri Pelajar Indonesia, Naeva Zahirah menyoroti masih lebarnya kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia. Melalui advokasi bertajuk Nusantara Berbudaya, ia mendorong upaya pendidikan yang setara sekaligus memperkuat identitas budaya sejak usia dini.
Naeva mengatakan, perbedaan fasilitas pendidikan masih menjadi tantangan nyata. Siswa di perkotaan umumnya belajar dengan sarana yang lebih memadai, mulai dari kondisi bangunan sekolah, ketersediaan buku, hingga akses internet. Sementara itu, di sejumlah daerah pedesaan, siswa masih harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah dan belajar dengan fasilitas terbatas.
Kesenjangan tersebut tercermin dalam data capaian pendidikan. Pada 2023, tingkat penyelesaian pendidikan menengah atas di wilayah pedesaan tercatat sebesar 27,98 persen, jauh di bawah wilayah perkotaan yang mencapai 49,16 persen. Menurut Naeva, angka tersebut menunjukkan masih adanya hambatan struktural yang dihadapi anak-anak di daerah dalam mengakses pendidikan yang layak.
“Data ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan belum sepenuhnya tercapai,” ujar Naeva, Jumat (17/1/2026).
Sebagai respons atas kondisi tersebut, ia menggagas Nusantara Berbudaya, sebuah program yang mengintegrasikan pendidikan formal dengan pembelajaran budaya. Program ini dirancang agar dapat diterapkan baik di desa maupun di kota, dengan pendekatan yang inklusif dan kontekstual.
Melalui Nusantara Berbudaya, siswa diajak mengikuti kegiatan literasi berbasis cerita rakyat serta pembelajaran seni tradisional, seperti tari, musik, dan nyanyian daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu mengembangkan kemampuan akademik sekaligus menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.
Naeva menilai, penguatan pendidikan dan budaya menjadi penting seiring pembangunan Nusantara sebagai ibu kota baru. “Pendidikan yang setara dan berakar pada budaya akan menjadi fondasi bagi generasi masa depan Indonesia,” katanya.
Ia berharap, inisiatif tersebut dapat mendorong kolaborasi berbagai pihak agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan. (*/Red)

















