KUTIM, CUITANKALTIM.COM – Menurunnya debit sumber mata air di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang menjadi perhatian serius pemerintah dan Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) Kutai Timur.
Kondisi tersebut diketahui setelah Pemerintah Kecamatan Kaliorang bersama Perumdam TTB melakukan peninjauan lapangan ke sejumlah titik sumber mata air yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
Plt Camat Kaliorang, Pitriani, mengatakan tim menemukan adanya aktivitas penebangan hutan di sekitar kawasan sumber air yang diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya debit mata air.
“Hal inilah yang membuat debit air di penampungan menurun secara drastis, karena mata air kita menurun dari empat titik, sehingga sisa satu titik saja,” ujar Pitriani, Sabtu (13/6/2026).
Akibatnya, produksi air baku mengalami penurunan cukup signifikan. Padahal, kebutuhan ideal untuk melayani sekitar 3.827 pelanggan mencapai 40 hingga 50 liter per detik.
Sementara pasokan yang tersedia saat ini hanya berkisar 12 hingga 15 liter per detik.
“Kondisi ini tentu menjadi perhatian bersama karena kebutuhan air masyarakat harus tetap terpenuhi,” katanya.
Menurut Pitriani, pemerintah kecamatan saat ini tengah mencari berbagai alternatif sumber air baku sembari menyiapkan langkah jangka panjang melalui reboisasi atau penghijauan kembali di kawasan sekitar mata air.
Dia menilai pelestarian lingkungan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan sumber air bagi masyarakat.
“Kalau bukan kita yang menjaganya siapa lagi. Kita tentu ingin generasi mendatang juga bisa menikmati kekayaan alam yang ada,” ucapnya.
Di sisi lain, Perumdam TTB juga menyiapkan sejumlah opsi untuk menjaga layanan air bersih tetap berjalan.
Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, mengatakan pihaknya tengah melakukan kajian terkait pemanfaatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.
Kajian tersebut ditargetkan dapat berjalan pada akhir Juni 2026.
“Mengingat kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat, sementara kapasitas air baku yang tersedia mengalami penurunan,” katanya.
Menurutnya, langkah alternatif perlu disiapkan sejak dini agar pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu.
“Kami berupaya mencari solusi terbaik agar suplai air bersih bagi masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya. (*/Arya)

















