SAMARINDA, CUITANKALTIM.COM – Hutan Kalimantan Timur kini tak hanya berfungsi sebagai penyangga lingkungan, tetapi juga menjelma menjadi sumber pendapatan bernilai fantastis.
Melalui skema perdagangan karbon, provinsi ini berhasil memanfaatkan kekayaan alamnya menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di tingkat internasional.
Gubernur Rudy Mas’ud menyebut Kalimantan Timur saat ini menjadi salah satu daerah terdepan dalam pengembangan perdagangan karbon di kawasan Asia Pasifik.
Program tersebut tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat hingga pelosok desa dan kawasan pesisir.
Menurutnya, keberhasilan menjaga jutaan hektare hutan telah menjadi modal utama Kaltim dalam menarik perhatian pasar karbon global.
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap upaya pengurangan emisi, hutan-hutan Kaltim menjadi aset bernilai tinggi karena kemampuannya menyerap karbon dalam jumlah besar.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 4,5 juta hektare kawasan daratan ditetapkan sebagai prioritas konservasi.
Wilayah ini menyimpan cadangan karbon yang sangat besar dan menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekonomi hijau di masa depan.
Potensi itu semakin diperkuat oleh hamparan mangrove di wilayah pesisir.
Kawasan mangrove di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, dan Paser kini diproyeksikan menjadi pusat pengembangan karbon biru atau blue carbon yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Hasilnya mulai terlihat. Kaltim mampu mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca hingga puluhan juta ton CO2 ekuivalen.
Capaian tersebut mengantarkan daerah ini memperoleh berbagai insentif internasional, termasuk dukungan dari program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund yang difasilitasi Bank Dunia.
Nilai ekonominya pun tidak main-main. Dari perdagangan karbon, hutan Kalimantan Timur disebut mampu menghasilkan hingga 89 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp1,4 triliun.
“Ini membuktikan bahwa menjaga hutan bukan lagi sekadar kewajiban lingkungan, tetapi juga investasi yang memberikan manfaat ekonomi nyata,” katanya dikutip Pemprov Kaltim. (*/Red)
















