BONTANG – Keputusan untuk mempertahankan penggunaan jembatan sebagai akses utama SMPN 5 Bontang dinilai sebagai langkah tepat dalam menghindari kepadatan yang berpotensi mengganggu keselamatan siswa. Jalur alternatif yang sempat digunakan sebelumnya terbukti memiliki keterbatasan kapasitas.
Wakil Kepala Sekolah, Sari Indrawati, menjelaskan bahwa jalur belakang hanya memiliki lebar sekitar satu meter, sehingga tidak ideal untuk menampung arus siswa dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena jalur tersebut juga digunakan oleh beberapa sekolah lain dalam satu kawasan.
Ia mengungkapkan bahwa kepadatan tersebut bahkan pernah menyebabkan insiden kecelakaan, yang menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah.
“Karena terlalu ramai, pernah ada kejadian kecelakaan, sehingga kami sangat mempertimbangkan aspek keselamatan,” katanya saaf dikonfirmasi, Senin (30/3/2036).
Dengan kembali digunakannya jembatan sebagai akses utama, arus siswa menjadi lebih teratur dan tidak terpusat di jalur sempit.
Hal tersebut memungkinkan pergerakan siswa menjadi lebih lancar dan minim risiko.
Selain itu, akses utama juga lebih mudah diawasi oleh pihak sekolah maupun petugas terkait.
Kondisi ini memberikan rasa aman bagi siswa dalam beraktivitas sehari-hari.
Pihak sekolah pun merasa lebih yakin dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan dukungan akses yang memadai.
“Kita terus mendukung kebijakan yang mengutamakan keselamatan sebagai prioritas utama,” pungkasnya. (MH/ADV)

















