SAMARINDA – Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Kaltim memiliki koordinator baru.
Fitri Wahyuningsih terpilih memimpin organisasi jurnalis lingkungan tersebut untuk periode 2026 – 2029.
Fitri dikenal sebagai jurnalis yang konsisten mengawal isu agraria dan lingkungan.
Dia akan memimpin SIEJ Simpul Kaltim selama tiga tahun ke depan.
Karier jurnalistiknya dimulai pada 2019 di media lokal Klikbontang.com yang kini menjadi Klikkaltim.com.
Selama hampir dua tahun, ia meliput berbagai isu perkotaan di Bontang, mulai dari politik, pendidikan, hingga kriminalitas.
Pada 2020, Fitri bergabung dengan Bontangpost.id di bawah Kaltim Post Group. Di media tersebut, ia mulai mendalami penulisan feature dan meraih sejumlah penghargaan.
Di antaranya juara satu lomba menulis #AkuDanMangrove pada 2021 yang diselenggarakan WRI Indonesia, AJI Jakarta, dan Yayasan Lahan Basah.
Sejak Februari 2023, Fitri melanjutkan karier di Kaltimtoday.co.
Ia fokus pada liputan mendalam dan investigasi terkait isu lingkungan, transisi energi, masyarakat adat, serta HAM di Kalimantan Timur, termasuk kawasan IKN dan Penajam Paser Utara.
Dua laporan investigasinya terkait dampak pembangunan IKN dan pemanfaatan lubang tambang di Bontang mendapat apresiasi dari ICW sebagai Liputan Investigasi Terbaik dan Pemilihan Isu Terbaik pada 2023 dan 2024.
Usai terpilih, Fitri menilai memimpin SIEJ Simpul Kaltim merupakan tanggung jawab besar, terutama untuk meningkatkan eksistensi organisasi di kalangan jurnalis.
“Tugas kami di SIEJ Simpul Kaltim ini cukup banyak, tapi yang paling mendesak adalah menggaungkan nama organisasi ini. Karena harus diakui, bahkan di kalangan jurnalis masih banyak yang belum tahu SIEJ itu apa,” kata Fitri, Selasa (14/4/2026).
Ia menyebut masih banyak persoalan lingkungan di Kaltim yang membutuhkan perhatian media.
Mulai dari kenaikan suhu ekstrem, kematian di lubang bekas tambang (void), dampak pertambangan batu bara dan pencemaran sungai, sawit, dampak ekologi pembangunan IKN, krisis pengelolaan sampah, hingga kerusakan kawasan maritim.
Menurutnya, meliput isu lingkungan bukan perkara mudah karena membutuhkan pemahaman khusus, biaya tinggi, serta memiliki risiko.
“Tapi saya kira sebagai jurnalis kita berusaha menggerakkan sesuatu di masyarakat dan bumi tempat kita hidup. Kita perlu menggerakkan semua orang untuk lebih sadar soal lingkungan hidup, penyelamatan SDA, atau bergerak untuk tindakan iklim,” ujarnya.
Fitri berharap SIEJ Simpul Kaltim dapat menjadi wadah bagi jurnalis untuk belajar dan tumbuh bersama dalam mengawal isu lingkungan.
“Semoga dalam organisasi ini kita bisa belajar bergerak dan tumbuh bersama, serta menghidupi organisasi ini dengan riang gembira,” tutupnya. (*/Ril)















