CUITANKALTIM.COM, BONTANG – SMP Negeri 2 Bontang mulai menyiapkan strategi penyesuaian jam mengajar menyusul adanya tiga tenaga pendidik yang akan memasuki masa pensiun pada tahun 2026.
Langkah tersebut dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berjalan optimal tanpa mengganggu distribusi mata pelajaran kepada siswa.
Sekolah pun mulai melakukan pemetaan kebutuhan guru sejak dini untuk mengantisipasi kekurangan tenaga pengajar di beberapa bidang studi.
Waka Kurikulum SMPN 2 Bontang, Jumadi, mengatakan ketiga guru yang akan memasuki masa purnatugas berasal dari mata pelajaran seni budaya, IPA, dan Bahasa Inggris.
Ketiga bidang tersebut merupakan mata pelajaran inti yang memiliki jam belajar cukup banyak di setiap tingkatan kelas. Karena itu, sekolah perlu melakukan penyesuaian lebih awal agar tidak terjadi kekosongan pengajar ketika masa pensiun tiba.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sekolah harus mulai menghitung kebutuhan pengajar untuk menjaga kelancaran proses belajar mengajar.
Perhitungan itu dilakukan dengan melihat jumlah rombongan belajar, beban mengajar guru aktif, hingga kebutuhan jam pelajaran di setiap mata pelajaran.
“Jadi kita mempertimbangkan kesiapan guru lain yang nantinya berpotensi menerima tambahan jam mengajar. Karena, tahun ini ada tiga guru yang akan pensiun,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, sementara ini sekolah masih akan memaksimalkan guru aktif yang tersedia untuk mengisi kebutuhan jam pelajaran.
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi sementara sambil menunggu adanya kebijakan lebih lanjut terkait penambahan tenaga pendidik.
Dengan sistem pembagian jam yang disesuaikan, sekolah optimistis kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan normal seperti biasa.
Saat ini SMPN 2 Bontang memiliki 43 guru aktif yang dinilai masih memungkinkan dilakukan penyesuaian pembagian beban mengajar.
Jumlah tersebut dianggap cukup untuk membantu menutupi kekurangan sementara, terutama bagi guru yang jam mengajarnya masih belum memenuhi ketentuan maksimal.
Namun demikian, sekolah tetap harus melakukan pengaturan secara cermat agar beban kerja guru tidak terlalu berat.
“Kalau guru jam mengajarnya belum penuh, masih bisa diberikan tambahan,” katanya.
Jumadi menerangkan, batas maksimal jam mengajar guru dalam satu minggu mencapai 40 jam pelajaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Aturan tersebut menjadi acuan sekolah dalam melakukan distribusi tambahan jam mengajar kepada guru aktif. Dengan adanya batas maksimal itu, pihak sekolah memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian tanpa melanggar aturan yang sudah ditetapkan pemerintah.
Sementara untuk kebutuhan sertifikasi, guru minimal harus memenuhi 24 jam pelajaran dalam seminggu. Ketentuan itu juga menjadi pertimbangan dalam proses pembagian jam mengajar agar hak sertifikasi guru tetap terpenuhi.
Karena itu, sekolah berupaya menyesuaikan tambahan jam secara merata sehingga tidak menimbulkan ketimpangan beban kerja di antara tenaga pendidik.
Karena itu, sekolah menilai masih ada ruang penyesuaian bagi beberapa guru untuk membantu mengisi kekurangan ketika guru yang akan pensiun sudah tidak aktif mengajar.
Penyesuaian tersebut nantinya dilakukan berdasarkan kebutuhan mata pelajaran dan kompetensi masing-masing guru. Dengan skema itu, sekolah berharap kualitas pembelajaran tetap terjaga meskipun terjadi pengurangan jumlah tenaga pengajar.
“Jadi selama belum sampai 40 jam, masih memungkinkan untuk tambahan mengajar,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi rencana pensiun tiga guru tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang.
Laporan itu disampaikan sebagai bentuk koordinasi agar kebutuhan tenaga pendidik di SMPN 2 Bontang dapat menjadi perhatian pemerintah daerah.
Sekolah berharap ada langkah antisipasi dari dinas terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan guru ke depan.
Pihak sekolah berharap nantinya ada solusi tambahan tenaga pengajar agar distribusi pembelajaran tetap berjalan maksimal di SMPN 2 Bontang.
Kehadiran guru baru dinilai penting untuk menjaga kualitas pendidikan sekaligus memastikan seluruh mata pelajaran tetap tersampaikan dengan baik kepada siswa.
Dengan persiapan yang dilakukan sejak sekarang, sekolah optimistis proses pembelajaran tetap berlangsung kondusif meskipun ada guru yang memasuki masa pensiun. (MH/ADV)

















