JAKARTA – Gendang telinga atau membran timpani memegang peran vital dalam sistem pendengaran manusia.
Namun, organ tipis dan sensitif ini rentan mengalami robekan yang tak hanya berdampak pada penurunan pendengaran, tapi juga membuka pintu bagi infeksi serius dan menurunnya kualitas hidup penderitanya.
Dokter spesialis THT, bedah kepala dan leher dari RSPI Bintaro Jaya, dr. Andreas Ardiansyah, mengungkapkan bahwa robekan pada gendang telinga dalam dunia medis disebut perforasi membran timpani dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi menahun, cedera fisik, hingga perubahan tekanan udara secara mendadak atau barotrauma.
“Lubang pada gendang telinga sering kali disebabkan oleh infeksi kronis, trauma, atau barotrauma, yaitu cedera akibat perubahan tekanan udara secara mendadak,” ujar Andreas dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (8/8/2025).
Penyebab Robeknya Gendang Telinga
Robekan pada membran timpani bisa dipicu oleh beberapa hal, di antaranya:
* Infeksi kronis, terutama pada telinga tengah, yang menyebabkan penumpukan cairan dan tekanan hingga akhirnya merobek membran.
* Trauma fisik, seperti benturan keras, tertusuk cotton bud, atau cedera akibat kecelakaan.
* Barotrauma, akibat perubahan tekanan ekstrem saat naik pesawat, menyelam, atau terkena ledakan suara.
Gejala yang Patut Diwaspadai
Gendang telinga robek biasanya menunjukkan sejumlah gejala yang mengganggu kenyamanan dan fungsi pendengaran, seperti:
* Penurunan pendengaran
* Telinga berdenging (tinnitus)
* Keluarnya cairan atau nanah dari telinga
* Nyeri mendadak dan tajam
* Vertigo dan mual
* Perasaan penuh di telinga
Menurut Andreas, kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosial penderitanya. Penurunan kemampuan mendengar bisa menyebabkan gangguan komunikasi, hambatan pekerjaan, hingga turunnya kepercayaan diri.
“Kalau dibiarkan, infeksi dari gendang telinga yang robek bisa terus-menerus mengeluarkan cairan dan menyebabkan komplikasi lebih berat seperti otitis media supuratif kronik, atau dalam bahasa awam dikenal dengan congek,” jelasnya.
Penanganan Melalui Timpanoplasti
Meski demikian, robekan pada gendang telinga bisa diperbaiki melalui prosedur medis yang disebut timpanoplasti. Prosedur ini bertujuan menutup lubang pada membran timpani dan dapat disertai dengan rekonstruksi bagian pendengaran lainnya.
“Timpanoplasti adalah tindakan minimal invasif yang bertujuan mengembalikan fungsi pendengaran secara optimal sekaligus mencegah infeksi berulang. Semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya,” tegas Andreas.
Andreas menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kerusakan gendang telinga. Penanganan yang cepat dapat mencegah dampak jangka panjang dan memulihkan fungsi pendengaran secara maksimal.
“Telinga adalah jendela kita ke dunia suara sekaligus penjaga keseimbangan. Jangan tunggu sampai gangguan kecil berubah jadi masalah besar,” pungkasnya. (*/Whd)














