CUITANKALTIM,COM, BONTANG – SMP Negeri 1 Bontang menerapkan sistem fleksibel dalam pendampingan siswa inklusi. Pendamping dapat berada di dalam maupun di luar kelas sesuai kondisi siswa.
Kepala SMP Negeri 1 Bontang, Riyanto, menjelaskan bahwa fleksibilitas ini penting untuk menyesuaikan kebutuhan siswa. Tidak semua kondisi memerlukan pendamping berada di dalam kelas secara terus-menerus.
Jika kondisi siswa stabil, pendamping dapat menunggu di luar kelas. Namun, mereka tetap harus berada di lingkungan sekolah.
“Supaya kalau ada apa-apa bisa cepat ditangani. Sekain itu, penting juga kesiapsiagaan dalam pendampingan,” ujarnya, Rabu (7/4/2026).
SMP Negeri 1 tetap mengedepankan sistem pembelajaran inklusif tanpa pemisahan kelas. Siswa inklusi belajar bersama siswa reguler dalam satu ruang.
Hal ini dilakukan untuk memastikan kesetaraan hak dalam pendidikan. Tidak ada perlakuan berbeda antara siswa inklusi dan siswa lainnya.
Namun, bagi siswa dengan kondisi psikologis tertentu, pendampingan tetap menjadi kebutuhan utama. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kenyamanan bersama.
Riyanto menuturkan bahwa pengalaman sebelumnya menjadi acuan dalam penerapan sistem ini. Tahun lalu, dua siswa inklusi mendapat pendampingan penuh.
Untuk penyediaan pendamping, sekolah menyerahkan kepada orang tua.
“Mereka diminta mencari pendamping yang sesuai dengan kebutuhan anak,” sebutnya.
Pendekatan fleksibel ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang adaptif. SMP Negeri 1 berupaya menyeimbangkan inklusivitas dan kenyamanan kelas. (MH/ADV)

















