KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai tancap gas mendorong hilirisasi kelapa sawit sebagai sektor strategis energi.
Langkah ini ditegaskan dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah yang digelar, Senin (20/4/2026), sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan, Kutim tidak kekurangan potensi.
Bahkan, daerah ini telah memiliki kawasan industri strategis di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy, namun pemanfaatannya untuk hilirisasi sawit masih jauh dari optimal.
“Kita sudah punya KEK, tapi belum maksimal untuk hilirisasi sawit. Ini tantangan yang harus kita jawab,” tegas Ardiansyah.
Untuk mempercepat realisasi, Ardiansyah meminta DPRD Kutim segera memanggil perusahaan-perusahaan sawit guna memastikan kesiapan investasi, khususnya pembangunan refinery dan industri biodiesel.
“Kami mendorong DPRD untuk segera memanggil perusahaan sawit agar ada kepastian kesiapan investasi,” ujarnya.
“Mudah-mudahan ada yang siap bangun biodiesel dari sawit. Ini peluang besar bagi daerah,” tambahnya.
Dorongan ini bukan tanpa alasan. Di tengah dinamika global, mulai dari konflik internasional hingga gangguan jalur distribusi energi dunia.
Indonesia dituntut memperkuat kemandirian energi, dengan sawit sebagai salah satu komoditas utama.
“Kondisi global saat ini harus kita jadikan momentum untuk memperkuat energi berbasis sumber daya sendiri,” jelas Ardiansyah.
Karena itu, Pemkab Kutim ingin KEK Maloy tidak sekadar menjadi kawasan industri biasa, tetapi berkembang menjadi pusat hilirisasi sawit dan produksi energi terbarukan berbasis biodiesel.
“Kita ingin KEK Maloy benar-benar menjadi pusat hilirisasi sawit dan energi masa depan,” pungkasnya. (*/Arya)

















