BONTANG – Praktik pengeboman ikan hingga minimnya perlindungan hukum bagi nelayan kecil menjadi sorotan dalam kegiatan temu wicara nelayan.
Kegiatah itu bertema “Nelayan Motor Penggerak Swasembada Pangan Nasional” pada peringatan HUT ke-53 Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), di Bontang, Jumat (22/5/2026).
Salah satu perwakilan nelayan dari Kelompok Nelayan Karya Etam, Samson Wijaya, menyampaikan keresahan yang selama ini dihadapi para nelayan pesisir, khususnya terkait maraknya aksi pengeboman ikan di wilayahnya.
Menurut Samson, kelompok nelayan yang dipimpinnya telah mengelola kawasan pesisir hutan mangrove selama tiga tahun terakhir.
Selain menangkap ikan, mereka juga menjalankan jasa pengantaran wisatawan dan pemancing laut.
“Sudah berjalan tiga tahun, alhamdulillah kami bisa bertahan. Tapi kelemahan kami di sana musuhannya dengan pengeboman ikan, Pak. Jadi kami butuh perlindungan hukum,” ujarnya.
Dia menilai praktik pengeboman ikan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup nelayan kecil yang menggantungkan penghasilan dari ekosistem pesisir dan laut.
Namun demikian, Samson mengaku belum berani mengungkap pelaku secara terbuka dan berharap ada perhatian lebih dari aparat penegak hukum maupun organisasi nelayan.
Samson menjelaskan, aktivitas kelompok nelayannya berada di kawasan pesisir yang membentang dari Pulau Busung hingga wilayah Sangatta.
Kawasan tersebut juga memiliki potensi wisata memancing yang terus berkembang.
Selain perlindungan hukum, ia berharap adanya dukungan lanjutan bagi nelayan kecil, terutama peningkatan alat tangkap dan fasilitas melaut agar nelayan dapat menjangkau wilayah laut yang lebih jauh.
“Selama ini kami hanya pengantaran. Kami ingin naik tingkat, bisa melaut lebih jauh. Karena kalau pulang tanpa hasil, badai di rumah lebih tinggi daripada badai di laut,” katanya.
Tak hanya itu, Samson juga meminta adanya identitas resmi bagi anggota HNSI yang tergabung dalam kelompok nelayan berbadan hukum.
Dirinya menyebut kelompoknya telah memiliki akta notaris, namun merasa belum sepenuhnya mendapatkan pembinaan maupun program pendukung.
Dalam kesempatan tersebut, Samson turut memaparkan rencana pembangunan rumah apung sederhana di tengah laut.
Fasilitas itu nantinya akan difungsikan sebagai tempat singgah bagi nelayan dan wisatawan pemancing.
Rumah apung tersebut dirancang menggunakan drum dan kayu sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan di perairan.
“Nanti bisa jadi tempat singgah orang mancing dua sampai tiga hari. Sekarang belum ada tempat ataupun wadah seperti itu. Jadi kami berharap ada support dan fasilitasi,” pungkasnya. (*/Niwil)

















