BONTANG – Program literasi di sekolah-sekolah Kota Bontang tidak hanya difokuskan pada budaya membaca buku, tetapi juga penguatan pendidikan karakter melalui program baca tulis kitab suci.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan dan Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Bontang, Ishak Karangan, menyebut Pemkot hingga kini masih menjalankan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2013 tentang pendidikan baca tulis Al-Qur’an.
Ishak menjelaskan, program tersebut diterapkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari peningkatan literasi sekaligus pembentukan akhlak dan karakter peserta didik.
Menurut dia, kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai.
“Diberikan ruang sekitar setengah jam untuk membaca. Itu sangat berdampak terhadap pembentukan karakter dan akhlak siswa,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Ia menambahkan, program itu tidak hanya diperuntukkan bagi siswa muslim melalui baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga disesuaikan bagi siswa nonmuslim melalui pembacaan Alkitab sesuai keyakinan masing-masing.
Menurut Ishak, literasi keagamaan menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter yang masih relevan di tengah perkembangan teknologi digital saat ini.
Pendidikan, kata dia, tidak hanya berbicara soal kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan moral generasi muda.
“Karakter mereka bisa terbangun lebih positif ke depannya. Itu bagian dari literasi juga karena ada aktivitas membaca,” jelasnya.
Selain menjalankan program literasi keagamaan, pemerintah daerah juga sempat memberikan apresiasi kepada sekolah dan pihak yang aktif mendorong budaya literasi.
Namun, program penghargaan tersebut terkendala kondisi defisit anggaran.
Meski demikian, Dinas Pendidikan memastikan komitmen penguatan literasi tetap berjalan.
“Literasi tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter pelajar,” tutupnya. (MH/ADV)

















