BONTANG – Keluhan pedagang Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin) soal air yang tidak mengalir selama sepekan mendapat respons tak biasa dari Kepala UPT Pasar Kota Bontang, Nurfaidah.
Saat dikonfirmasi wartawan, ia hanya menjawab singkat, “galau.”
“Galau,” ungkapnya singkat, Selasa 30 Maret 2026, malam.
Jawaban tersebut menuai perhatian, mengingat kondisi di lapangan dinilai mendesak.
Air menjadi kebutuhan utama bagi pedagang, terutama di los ikan, ayam, daging, dan santan kelapa.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Asosiasi Pasar Tamrin, Zulkifli, mengatakan ketiadaan air membuat aktivitas perdagangan terganggu dan memicu bau tidak sedap di area pasar.
“Air itu vital. Kalau tidak ada, pasti bau,” ujarnya, Selasa (31/3/2025).
Ia menyebut kondisi pasar kini kotor, dengan sejumlah lorong dan toilet yang berkerak akibat minimnya pasokan air.
Menurutnya, persoalan bukan pada distribusi PDAM.
Penampungan air di basement masih penuh, namun pompa tidak berfungsi dan pipa dalam kondisi keropos.
“Masalahnya di pompa,” katanya.
Akibatnya, pedagang harus bolak-balik mengambil air dari basement. Bahkan, ada yang mengeluarkan biaya hingga Rp500 ribu per hari untuk membeli air galon.
“Kita capek ambil air terus,”ucap salah satu pedagang.
Zulkifli menegaskan pedagang merasa dirugikan, meski tetap membayar retribusi setiap bulan. Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah.
“Jangan sampai pembeli enggan datang,” tegasnya.
Pihak asosiasi pasar mengaku telah berkoordinasi dengan UPTD Pasar. Namun, kewenangan perbaikan disebut berada di Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang.
Diketahui juga, para wartawan sudah mendatangi Kantor DKUMPP Bontang, namun semua unsur pimpinan sedang sibuk di luar kantor. (*/Niwil)
















