KUTIM – Dari pelosok Bumi Kutai, harapan merawat dan mempertahankan nilai-nilai keislaman terus dinyalakan. Meski di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap mengikis akar budaya dan nilai spiritual masyarakat.
Berbagai kalangan masyarakat kembali berkumpul dengan suasana penuh khidmat demi menyaksikan dan menikmati Semarak Peresmian Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Wanasari.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dimulai 12–14 Juni 2026 tersebut, menjadi penanda kembalinya sebuah gerakan peradaban yang berkeinginan merawat warisan budaya leluhur nan menguatkan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan masyarakat yang berbeda latar belakang.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Kutai tersebut menjadi simbol penyucian diri, ucapan rasa syukur. Kegiatan yang dikuatkan dengan doa bersama agar yayasan tersebut berada dalam lindungan dan keberkahan Allah SWT.
Akulturasi budaya dan agama terjalin begitu harmonis menjadi bukti bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan dalam membangun kehidupan umat manusia.
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah penyematan Wafan, pemberian topi sebagi gelar penghormatan, kepada Ardiansyah dan Muhammad Sholikh, Pemasangan topi tersebut bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan kepercayaan moral untuk terus menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai budaya serta keagamaan yang menjadi identitas masyarakat Kutai.
Suasana acara kian terasa khidmat saat Pangeran Mangkupatih, Juru Bicara Yang Mulia Sultan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, menyampaikan kepada masyarakat untuk menjaga hubungan erat antara adat dan agama yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kutai sejak berabad-abad.
“Semangat tersebut telah diwariskan oleh Tuanku Datuk Tunggang Parangan, ulama besar asal Minangkabau yang menyebarkan Islam pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota pada abad ke-16,” ujarnya.
Menurutnya, Sejak masa itu dan sampai sekarang adat dan agama tumbuh sebagai dua kekuatan yang saling menguatkan, membentuk karakter masyarakat Kutai yang religius, santun, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Pun demikian pesan juga datang dari Pengasuh Yayasan, Muhammad Sholikh, yang mengajak seluruh tamu dan hadirin untuk mensyukuri setiap amanah yang diberikan Allah SWT.
“Apabila engkau ingin mengetahui nilai atau kedudukan engkau di sisi Allah, maka lihatlah di mana Allah menempatkan engkau,” terangnya.
Kalimat cukup sederhana itu, tapi mengandung makna yang mendalam serta membangkitkan kesadaran agar setiap amanah yang diberikan harus dapat dipertanggung jawabkan dan dijalankan sebaik-baiknya.
Tak mau ketinggalan Pengawas Yayasan, Ardiansyah, juga turut mengajak seluruh masyarakat untuk meneladani kesederhanaan dan ketulusan leluhur. Ia pun menyebut, kecanggihan teknologi tak boleh membuat manusia melupakan akar budayanya.
Pesan juga datang dari, Ketua Yayasan, Yordianto, mengatakan adat istiadat merupakan sumber kemaslahatan yang ketika dijalankan bersamaan dengan syariat Islam.
Menurutnya, masyarakat yang mampu menjaga keseimbangan antara budaya dan agama akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman.
“Kemajuan tidak harus menghilangkan jati diri, bahwa adat harus ditinggal demi modernitas, dan agama akan selalu menjadi cahaya yang menerangi peradaban,” katanya.
Pesan tersebut kembali menggugah harapan agar generasi mendatang tumbuh sebagai insan yang berilmu, berakhlak, mencintai budayanya, serta mampu menjaga harmoni antara agama dan budaya. (*/Red)

















