KUTIM – Suasana nonton bareng (nobar) film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Kutai Timur dihadiri ratusan warga.
Kegiatan yang digelar oleh Jaringan Kerja (Jaker) Masyarakat Sipil Kutim tersebut berlangsung di pelataran Kantor Kaltim Post Biro Kutim, Sabtu (16/5/2026).
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan hasil kolaborasi Koperasi Indonesia Baru, Jubi, Watchdoc, Greenpeace Indonesia, dan Pusaka.
Film dokumenter investigatif ini membahas pergeseran ruang hidup masyarakat adat Papua akibat dampak pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti proyek swasembada pangan dan bioenergi berskala besar.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar sesi dialog interaktif dengan narasumber, di antaranya Ketua Biro Kaltim Post Edwin Agustyan dan Ketua Fraksi Rakyat Kutim (FRK) Erwin F. Syuhada.
Menariknya, film Pesta Babi dikaitkan dengan kondisi wilayah Kutai Timur yang menjadi salah satu daerah dengan angka deforestasi tertinggi, mencapai 16.578 hektare.
Koordinator Jaringan Kerja Masyarakat Sipil Kutim, Jufriadi, menyampaikan bahwa pemutaran film Pesta Babi relevan dengan kondisi lingkungan di Kutim.
“Film Pesta Babi ini cukup dekat dengan kondisi lingkungan di Kutim, meski memiliki skema yang berbeda,” ujarnya.
Dia menjelaskan, persoalan di daerah industri ekstraktif kerap menjadi isu yang dibicarakan masyarakat, mulai dari banjir, konflik lahan, hingga pergeseran ruang hidup masyarakat nelayan.
Senada dengan itu, aktivis Pulau Miang, Sapinah, menceritakan kondisi ruang hidup nelayan lokal yang semakin menyempit.
Menurutnya, nelayan di sekitar Pulau Miang sebelumnya dapat memperoleh hasil tangkapan ikan yang melimpah di wilayah yang tidak jauh dari bibir pantai.
“Sekarang, untuk mendapatkan ikan, nelayan harus melaut lebih jauh karena wilayah pinggiran pantai sudah menjadi tempat parkir dan jalur logistik kapal ponton raksasa,” terangnya.
Sapinah menilai substansi yang diangkat dalam film Pesta Babi serupa dengan kondisi yang dialami masyarakat Pulau Miang.
“Pulau Miang kalau dilihat dari luar memang tampak cantik, tetapi di dalamnya terdapat konflik lingkungan yang cukup berat,” ungkapnya.
Karena itu, kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi masyarakat terkait pentingnya pembangunan berkelanjutan di daerah kaya sumber daya alam. (*/Arya)














