SAMARINDA – Selama bertahun-tahun, warga Desa Gerunggung, Tanjung Soke, Deraya, dan Lemper hidup dalam keterisolasian tanpa jalan, tanpa listrik, bahkan tanpa sinyal.
Di saat daerah lain berkembang pesat, mereka masih berjuang dengan akses yang nyaris tak ada.
Kini, harapan itu mulai terbuka. Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, memastikan pembangunan jalan menuju empat desa di Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, akan segera dimulai meski kondisi anggaran daerah sedang tertekan.
“Ini bukan sekadar proyek. Ini soal kemanusiaan. Kita tidak bisa biarkan mereka terus terisolasi,” katanya belum lama ini.
Menurutnya, menunda pembangunan justru akan memperburuk keadaan, terlebih di tengah ketidakpastian fiskal akibat pemangkasan transfer ke daerah.
“Kalau kita tunggu, bisa jadi tidak akan pernah ada. Jadi kita harus berani ambil risiko sekarang,” ujarnya.
Di tengah fokus pembangunan menuju Ibu Kota Nusantara, gubernur menegaskan bahwa desa-desa tertinggal tidak boleh dilupakan.
“Pembangunan tidak boleh hanya terlihat di kota. Desa yang paling tertinggal justru harus lebih dulu disentuh,” ungkapnya.
Kondisi warga yang hidup tanpa akses dasar menjadi perhatian serius. Bahkan untuk kebutuhan darurat seperti persalinan, warga harus menghadapi risiko besar akibat tidak adanya jalan.
“Bayangkan kalau ada ibu yang mau melahirkan. Tanpa jalan, itu sangat berbahaya. Ini yang membuat kita harus bergerak cepat,” bebernya.
Tahun ini, Pemprov Kaltim mengalokasikan Rp101 miliar untuk membuka akses jalan sepanjang 22 kilometer menuju Desa Gerunggung sebuah langkah awal untuk memutus keterisolasian.
“Minimal ada jalannya dulu. Setelah itu listrik dan jaringan pasti akan menyusul,” pungkasnya. (*/Red)

















