NGADA, NTT – Peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengguncang banyak pihak dan memantik keprihatinan luas.
Kasus ini dinilai bukan sekadar tragedi keluarga, tetapi cerminan persoalan kemiskinan ekstrem yang masih nyata di berbagai daerah di Indonesia.
Anggota DPD RI Dapil Kalimantan Timur, Andi Sofyan Hasdam, menilai kejadian tersebut harus menjadi perhatian nasional, bukan hanya dipandang sebagai persoalan lokal.
“Kalau bukan media besar yang mengangkat, bisa jadi peristiwa seperti ini berlalu begitu saja. Padahal ini tragedi kemanusiaan yang menunjukkan masih ada warga hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan,” ujarnya, Rabu 4 Februari.
Menurut Andi Sofyan Hasdam, keputusan mengakhiri hidup pada anak usia sekolah tidak bisa dilihat sebagai tindakan sesaat.
Dia menilai, kondisi tekanan hidup berkepanjangan akibat kemiskinan dapat memicu beban mental berat, bahkan pada anak-anak.
Siswa tersebut diketahui berasal dari keluarga kurang mampu. Ibunya yang seorang diri harus menafkahi beberapa anak dengan penghasilan tidak tetap.
Situasi ini, kata Andi, menggambarkan bagaimana kesulitan ekonomi dapat menekan keluarga hingga titik terendah.
“Bagi kita yang hidup di kota, mungkin sulit membayangkan ada anak putus asa karena kebutuhan sekolah yang bagi sebagian orang terlihat kecil. Tapi bagi keluarga miskin ekstrem, itu bisa menjadi beban besar,” katanya.
Andi menegaskan, tragedi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan pendataan ulang secara cepat dan akurat terhadap warga miskin ekstrem.
Ia menyoroti masih adanya keluarga yang hidup dalam kondisi tidak layak huni, kekurangan pangan, dan luput dari bantuan sosial karena persoalan administrasi data.
“Kemiskinan ekstrem bukan kejadian mendadak. Lingkungan sekitar pasti tahu kondisi mereka. Kalau sampai tidak terdata dan tidak dapat bantuan, berarti ada yang salah dalam sistem,” tegasnya.
Dirinya mendorong agar pemerintah daerah memprioritaskan program bedah rumah, bantuan tunai langsung, serta penciptaan lapangan kerja sederhana bagi warga miskin yang masih produktif, seperti pekerjaan kebersihan, proyek fisik, maupun dukungan modal usaha kecil.
“Ini bukan saatnya berteori. Mereka butuh pertolongan nyata dan cepat,” tambahnya.
Andi juga mengingatkan para pemangku kebijakan agar tidak hanya bergerak saat sebuah kasus menjadi sorotan media.
Menurutnya, isu pengentasan kemiskinan selalu menjadi janji kampanye, sehingga sudah seharusnya diwujudkan dalam kebijakan konkret yang langsung menyentuh warga paling rentan.
“Mengangkat harkat hidup orang miskin selalu jadi slogan politik. Tragedi ini mengingatkan kita, itu bukan sekadar janji, tapi tanggung jawab kemanusiaan,” pungkasnya. (*/Red)
Catatan Redaksi:
Isu bunuh diri berkaitan erat dengan kesehatan mental dan tekanan sosial-ekonomi.
Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan berat atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan profesional, layanan kesehatan terdekat, atau berbicara dengan keluarga/orang yang dipercaya. Anda tidak sendirian, dan bantuan itu ada.

















