KUTIM – Ketua Dewan Presidium Pengusaha Kutim Hebat, Abdul Haris, menegaskan roadmap ekonomi Kutai Timur (Kutim) harus menitikberatkan pada hilirisasi industri serta mengurangi ketergantungan terhadap APBD.
Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan sembilan langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Strategi ekonomi ini mencakup penguatan anggaran, stabilitas harga kebutuhan pokok, peningkatan investasi, dan produktivitas sektor unggulan.
Pada aspek hilirisasi, Haris menyoroti pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah, termasuk CPO dan produk turunan lainnya, serta pengembangan sektor pertanian dan perikanan untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah.
“Peningkatan infrastruktur juga menjadi kunci penting kami untuk memperkuat infrastruktur ekonomi dan logistik guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Haris dalam rilis yang diterima media, Minggu (23/02/2026) sore.
Haris menambahkan, target Kutai Timur adalah mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, stabilitas dan pemerataan menjadi fondasi utama penguatan ekonomi daerah.
Lebih lanjut, Haris menekankan bahwa pelaksanaan langkah strategis harus didukung kerja terukur dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang sejalan dengan visi, misi, dan 50 program ARMY yang berdaya saing.
“Hilirisasi produk unggulan daerah ini menjadi episentrum baru pemerintahan kami,” ujarnya.
Abdul Haris juga menyoroti peran organisasi non-pemerintah, seperti Kadin Kutim, yang diharapkan menjadi negosiator untuk menarik investor luar negeri.
Ia menilai perizinan yang berbelit-belit menjadi kendala klasik bagi investor, sehingga ruang-ruang tersebut perlu dipetakan dan dicari solusinya.
“Dewan Presidium Pengusaha Kutim Hebat sebagai organisasi yang concern dengan dinamika perkembangan sektor ekonomi, termasuk pelembagaan UMKM dan koperasi yang memang menjadi soko guru ekonomi rakyat,” jelas Haris.
Dalam berbagai diskusi di tingkat lokal, regional, maupun nasional, Haris mengungkapkan keluhan klasik mengenai birokrasi yang berbelit, yang membuat investor ragu menanamkan modal di Kutim.
Ia berharap selama lima tahun kepemimpinan ARMY, muncul terobosan yang menjadi warisan untuk kemajuan daerah.
“Jika tidak ada perbaikan komunikasi yang tepat dan cepat dari OPD yang membidangi hal tersebut, ini menjadi isu yang patut kami suarakan kepada Pemerintah Daerah,” katanya.
Haris menegaskan, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan kondusivitas daerah. Kepercayaan investor dan kesiapan membawa sumber daya menjadi kunci utama dalam membentuk roadmap ekonomi baru Kutim.
“Pesan saya adalah ekonomi harus terus bertumbuh dan faktor kondusivitas daerah menjadi kunci kepercayaan investor,” pungkas Haris. (*/Arya)

















