CUITANKALTIM.COM, BONTANG – SDN 008 Bontang Utara terus mengintensifkan berbagai langkah strategis untuk mempertahankan predikat Adiwiyata Mandiri yang telah diraih.
Komitmen itu diwujudkan melalui penguatan ekosistem hijau sekolah, termasuk penambahan ratusan tanaman dan pelibatan aktif seluruh warga sekolah.
Kepala SDN 008 Bontang Utara, Masitah, mengatakan predikat Adiwiyata Mandiri harus dijaga dengan konsistensi, karena status tersebut bukan capaian yang bersifat permanen.
Menurutnya, sekolah tetap harus memenuhi indikator penilaian agar predikat itu tidak hilang.
“Kalau tidak mampu mempertahankan, bisa kembali nol lagi. Jadi tidak boleh lengah atau santai. Karena itu kami terus memperkuat persiapan,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Sebagai bagian dari upaya itu, sekolah menyiapkan sekitar 700 tanaman yang tersebar di lingkungan sekolah.
Koleksi tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan indikator lingkungan sekaligus penopang keberlanjutan program Adiwiyata.
Jenis tanaman yang dikembangkan pun beragam, mulai dari tanaman keras hingga tanaman produktif seperti mahoni, pala, langsat, duku, rambutan, kelengkeng, jeruk, belimbing, mangga, sawo, melinjo, kopi, kakao, hingga pohon ulin.
Masitah menyebut sejumlah tanaman tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen penghijauan, tetapi juga telah beberapa kali menghasilkan panen dan dimanfaatkan sebagai media edukasi lingkungan bagi siswa.
“Semua saya punya koleksi tanaman. Bahkan ulin juga ada, yang tidak semua sekolah punya. Itu juga menjadi perhatian saat penilaian,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan program lingkungan juga dibangun melalui partisipasi kolektif seluruh warga sekolah.
Guru, siswa, hingga orang tua dilibatkan dalam menjaga budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.
Salah satu kebijakan yang diterapkan ialah setiap guru diwajibkan menanam satu pot tanaman berbeda.
Dengan 36 guru, kebijakan itu menghadirkan tambahan puluhan jenis tanaman baru di sekolah.
Selain fokus mempertahankan Adiwiyata Mandiri, sekolah juga mulai melihat peluang menuju Adiwiyata tingkat ASEAN.
Namun, menurut Masitah, prioritas utama saat ini adalah menjaga capaian yang telah diraih tetap bertahan.
“Mandiri itu sudah di atas nasional. Sekarang yang utama bagaimana mempertahankan, karena itu yang paling penting,” tutupnya. (MH/ADV)

















