BONTANG – Belakangan ini, warga Kota Bontang mengeluhkan kenaikan tarif air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dinilai cukup meresahkan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menjelaskan, kenaikan tarif ini wajar menimbulkan keterkejutan di masyarakat.
Pasalnya, selama tujuh tahun terakhir, tarif air tidak pernah mengalami kenaikan, meskipun biaya operasional dan perbaikan terus meningkat.
Menurut Agus, berdasarkan data yang ada, tarif air di Bontang masih tergolong paling rendah dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Timur.
“Kalau kita jujur, kalau dilihat dari harga per kubik, air itu bahkan masih lebih murah dibandingkan satu botol Aqua,” ujarnya saat ditemui wartawan Cuitan Kaltim, Jumat (10/4/2026).
Dia juga menduga bahwa lonjakan tagihan tidak semata-mata disebabkan oleh penyesuaian tarif, tetapi juga dipengaruhi oleh pola penggunaan air di lapangan.
Salah satu temuan yang sering terjadi adalah penggunaan satu meteran air untuk beberapa kepala keluarga, seperti pada rumah sewa atau kos-kosan.
“Misalnya satu meteran digunakan lima kepala keluarga sekaligus. Tentu pemakaiannya akan melonjak sangat tajam dalam satu pintu pembayaran,” ungkapnya.
Selain itu, faktor lain yang diduga turut menyebabkan lonjakan tagihan adalah kebocoran pada instalasi pipa milik pelanggan, serta kelalaian seperti lupa mematikan keran air.
Untuk memastikan penyebab pastinya, Agus menyatakan pihaknya akan melakukan pengecekan langsung di lapangan.
“Makanya nanti kita akan buktikan di lapangan. Senin kita jadwalkan,” tutupnya. (*/Niwil)

















