KUTIM – Laju pertumbuhan ekonomi Kutai Timur anjlok hingga 1,05 persen akibat menurunnya kontribusi pada sektor pertambangan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim mencatat kontribusi pertambangan terus mengalami penurunan dari tahun 2023 hingga tahun 2025.
Sejak tahun 2023 pertambangan memberikan kontribusi 79,67 persen lalu pada tahun 2024 turun 75,53 persen dan pada tahun 2025 anjlok hingga 70,17 persen.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menyebut pertumbuhan pada sektor pertambangan diakibatkan kebijakan pemerintah terkait pengurangan produksi batu bara.
“Ini kebijakan pemerintah untuk mengurangi produksi batu bara,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Sementara pada sejumlah sektor menunjukkan tren kontribusinya meningkat. seperti sektor pertanian, memberikan kontribusi yang meningkat dari 7,66 persen pada tahun 2023 menjadi 8,80 persen pada tahun 2024, hingga 10,96 persen pada tahun 2025.
Hal tersebut juga terjadi pada sektor Industri mengalami peningkatan, dari 3,22 persen pada tahun 2023, menjadi 4,34 persen pada tahun 2024 hingga 5,81 persen pada tahun 2025.
Ardiansyah menilai pertumbuhan ekonomi Kutim akan di upayakan pada sektor non-pertambangan dan terbukti memberikan kontribusi yang meningkat.
“Ini kita dongkrak dan luar biasa, inilah yang mempengaruhi pertanian dan UMKM, atau kita ini on the track pada sisi yang lain,” terangnya.
Walaupun pertambangan memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada pertumbuhan ekonomi daerah, tapi pada sektor lain akan terus diupayakan.
Ia berpesan agar kedepan kembali normal dan bisa kembali memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Semoga tahun depan pertambangan bisa kembali,” pungkasnya. (*/Arya)

















