BONTANG – Tradisi takbir keliling dan masiarah di wilayah Bontang Kuala kembali menjadi perhatian masyarakat dalam menyambut Hari Raya Iduladha.
Tradisi unik yang dilakukan dengan berkeliling dari rumah ke rumah sambil bertakbir tersebut diyakini telah berlangsung secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1950-an.

Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menilai budaya itu menjadi salah satu tradisi khas yang mampu mempererat hubungan sosial masyarakat setempat.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar takbir keliling, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi antarwarga.
“Tradisinya luar biasa dalam menyambut Hari Raya Iduladha, karena mampu mempererat silaturahmi sesama warga dan persaudaraan,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Dia mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat yang menyambut rombongan takbir keliling hingga masuk ke rumah-rumah warga. Bahkan, para tamu yang datang turut diberikan bingkisan saat pulang.
“Kami masuk ke rumah-rumah warga, lalu diberikan bingkisan saat pulang. Ini sesuatu yang unik bagi saya,” katanya.
Menurut Ardiansyah, tradisi tersebut perlu terus dijaga karena sudah menjadi budaya yang mengakar di tengah masyarakat.
Dirinya juga berharap kegiatan serupa dapat berlangsung lebih meriah pada tahun-tahun mendatang.
“Budaya seperti ini memang harus dilestarikan karena terus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Insyaallah tahun depan tetap dilaksanakan,” ucapnya.
Ardiansyah menjelaskan, berdasarkan informasi dari para tokoh dan warga terdahulu, tradisi tersebut telah ada sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun.
Awalnya, kegiatan dilakukan dalam skala kecil sebelum berkembang besar seperti sekarang.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman orang tua terdahulu di sini. Dari awalnya kecil sampai sekarang menjadi besar. Jadi memang perlu terus kita lestarikan,” jelasnya.
Tradisi yang dikenal masyarakat dengan sebutan siarah keliling itu dilaksanakan dengan sistem kelompok.
Setiap kelompok didampingi tokoh masyarakat atau koordinator yang telah ditentukan panitia masjid agar pelaksanaannya lebih tertata.
“Kelompok dibagi supaya tidak terlalu menumpuk di satu rumah. Jadi lebih mudah pengaturannya dan warga juga tidak kewalahan,” ujarnya.
Ardiansyah menambahkan, kegiatan tersebut dilakukan secara sederhana tanpa adanya paksaan bagi warga yang ingin menyediakan jamuan.
Menurutnya, inti utama tradisi itu adalah menjaga hubungan baik antarwarga.
“Kalau ada jamuan silakan, kalau tidak juga tidak dipaksa. Yang penting silaturahminya tetap terjaga,” katanya.
Ia menilai tradisi siarah dan takbir keliling menjadi budaya khas yang hanya ditemukan di Bontang Kuala.
Keunikannya terlihat dari pelaksanaan takbir keliling yang dilakukan pada malam hari menjelang Iduladha dengan berkunjung langsung ke rumah-rumah warga.
“Kalau dibilang unik, memang unik. Setahu saya ini hanya ada di Bontang Kuala. Biasanya silaturahmi dilakukan setelah salat Id, tetapi di sini dilakukan malam hari sambil takbir keliling,” tutupnya. (*/Niwil)

















